GOENAWAN MOHAMAD CATATAN PINGGIR PDF

Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom Catatan Pinggir di Majalah Tempo. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum. Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas.

Author:Samumuro Juzragore
Country:Zambia
Language:English (Spanish)
Genre:Technology
Published (Last):27 February 2008
Pages:365
PDF File Size:19.2 Mb
ePub File Size:13.95 Mb
ISBN:942-2-34490-169-9
Downloads:70479
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Net



Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan. Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, sebenarnya dalam proses berubah. Kita yang menemukannya juga berubah: dengan kepala yang tak lagi pusing atau menatapnya dengan mata yang tak lagi lelah; kertas itu sendiri sedang jadi lecek atau sumbing, lembap atau menguning.

Origami, di situ, mengandung dan mengundang perubahan. Berbeda dengan kirigami, ia dilipat tanpa direkat ketat dengan lem atau dijahit mati. Ia bernilai karena ia sebuah transformasi dari bahan tipis dan rata jadi sebuah bentuk yang kita bayangkan sebagai, misalnya, burung undan. Dan pada saat yang sama, ia mudah diurai kembali. Begitu juga penulisan sejarah: ia bernilai karena ia mengandung pengakuan, masa lalu sebenarnya tak bisa diberi bentuk yang sudah dilipat mati.

Saya selalu teringat ini tiap 17 Agustus. Hari itu telah jadi sebuah institusi. Di sekitarnya disusun ritual: tiap pukul Momen 67 tahun yang lalu itu seakan-akan patung pualam yang tak boleh lekang dan lapuk. Manusia memerlukan itu: patung, ritual, dan upacara. Tapi itu juga yang membuat kita memandang masa lalu sebagai sebuah bentuk yang disederhanakan dan diperindah—seperti origami. Di balik 17 Agustus sebagai sebuah ingatan yang dilembagakan, ada keadaan dan kerja yang tak terhitung ragamnya: para pemuda yang dengan semangat berapi-api dan jantung berdebar mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk berani tak patuh kepada penguasa Jepang; Bung Karno dan Bung Hatta yang dengan sabar tapi cemas mengikuti desakan itu—dan kemudian menyusun teks yang di sana-sini dicoret itu; sejumlah orang yang tak disebut namanya yang mengawal kedua pemimpin itu kembali dari Rengasdengklok; orang-orang yang menyiapkan bendera merah putih, pengeras suara, rekaman, upacara sederhana, dan berdoa….

Kerja dan tak jarang dengan kesalahan dan kebetulan dalam ragam yang tak habis-habisnya itu bahkan belum bisa membuat suara Bung Karno jadi sebuah gaung yang tak mati-mati, ke seluruh Indonesia, ke hari-hari mendatang. Sejarah, di balik origami yang rapi itu, tak semuanya rapi. Tapi ia justru bermula seakan-akan mematahkan waktu di tengah.

Di sini, saya ingin berhati-hati dengan hiperbol. Sementara itu kita tahu, 17 Agustus bukanlah sesuatu yang secara ontologis terpisah dari situasi waktu itu. Tapi tiap ingatan tentang revolusi selalu terdiri atas bagian yang sudah melayang terbang, atau melapuk—seperti kertas. Yang sering dilupakan, bahkan sebuah revolusi yang eksplosif datang dari perubahan-perubahan yang tidak heboh: politik mikro. Tak semuanya menarik, ganjil, atau heroik. Dalam bahasa Indonesia, kata sifat kadang-kadang bisa juga berfungsi menjadi kata kerja: daun adalah hijau dan itu juga berarti daun menghijau.

Pernah ada lelucon pahit. Sebab laku itu—yang berlangsung dalam sejarah sebagai proses—tak punya titik yang tetap di depan untuk dituju. Titik itu, untuk jeda, harus tiap kali diputuskan kembali. Itu sebabnya kita perlu membayangkan origami itu tak mati. Dalam bentuk seekor burung undan, kita bayangkan ia terbang tinggi.

BIONAIRE BT45RC MANUAL PDF

Catatan Pinggir

Start your review of Catatan Pinggir 1 Write a review Shelves: indo-s-phylo Lebih dari 11 tahun lalu, saya mendengar kemashyuran seseorang berinisial GM. Tak ada minat yang terbetik untuk mencari tahu. Adalah seorang Alif, anak asli Bukit Tinggi dalam Negeri 5 Menara, yang menceritakan pilihan akhirnya untuk memilih menjadi wartawan ketimbang menjadi seorang Habibie karena seorang GM. Magnet apa yang dimiliki seorang GM ini? Riset pun dimulai. Di toko buku terdekat, ternyata berjajar buku-buku warna-warni dengan judul; Catatan Pinggir 1, Catatan Pinggir 2, Catatan Lebih dari 11 tahun lalu, saya mendengar kemashyuran seseorang berinisial GM.

INTREBARI SI TESTE EDITURA NATIONAL 2012 PDF

Goenawan Mohamad

Seharusnya gadis kecil yang menari hula hoop di halaman rumah di daerah miskin di Nairobi itu tak terkena pecahan peluru dari pesawat yang tak pernah dilihatnya—pesawat yang sebenarnya melihatnya. Tapi yang tragis terjadi—dan itulah bagian terpenting dalam film Eye in the Sky. Eye in the Sky adalah fiksi yang mengisahkan dengan realistis getirnya buah simalakama perang modern. Syahdan, tiga tokoh teroris Al-Shabaab sedang bertemu di kampung Nairobi itu. Mereka sudah lama diintai.

GUNYAH GOONDIE AND WURLEY PDF

CATATAN PINGGIR GOENAWAN MOHAMAD PDF

Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan. Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, sebenarnya dalam proses berubah. Kita yang menemukannya juga berubah: dengan kepala yang tak lagi pusing atau menatapnya dengan mata yang tak lagi lelah; kertas itu sendiri sedang jadi lecek atau sumbing, lembap atau menguning. Origami, di situ, mengandung dan mengundang perubahan. Berbeda dengan kirigami, ia dilipat tanpa direkat ketat dengan lem atau dijahit mati.

Related Articles