BRONKIEKTASIS PDPI PDF

Biasanya pada daerah tersebut ditemukan perubahan yang bervariasi termasuk di dalamnya inflamasi transmural, edema mukosa BE silindris , ulserasi BE kistik dengan neovaskularisasi dan timbul obstruksi berulang karena infeksi sehingga terjadi perubahan arsitektur dinding bronkus serta fungsinya. Keadaan yang sering menginduksi terjadinya BE adalah infeksi, kegagalan drainase sekret, obstruksi saluran napas dan atau gangguan mekanisme pertahanan individu. Di seluruh dunia angka kejadian BE tinggi, biasanya terjadi pada negara terbelakang atau berkembang. BE kebanyakan terjadi pada penduduk usia pertengahan sampai lanjut, sedangkan akibat penyakit kongenital terjadi pada usia muda.

Author:Dazahn Mekus
Country:Laos
Language:English (Spanish)
Genre:Software
Published (Last):1 November 2014
Pages:272
PDF File Size:17.99 Mb
ePub File Size:11.36 Mb
ISBN:748-9-95553-845-1
Downloads:85676
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Malrajas



Karina Diana BAB 1. Hal yang menonjol dari sejarah bronkiektasis adalah gambaran hidup pasien yang dingin dan supuratif yang tampak pada tulisan Rene Theophile Hyacinthe Laennec pada awal abad ke 19, penjelasan pada tahun oleh Jean Athanase Sicard dari bronkografi dengan kontras, yang memungkinkan pencitraan dari perubahan destruktif pada saluran napas, penelitian yang dilakukan oleh Lynne Reid pada tahun an yang menghubungkan bronkografi dengan spesimen patologis, dan selanjutnya terjadi pengurangan prevalensi yang mungkin hadir dengan adanya terapi antituberkulosis dan imunisasi terhadap pertusis dan campak.

Gejalanya tergantung dari luas, berat, lokasi ada atau tidaknya komplikasi. Pada makalah ini akan dijelaskan bagaimana patofisiologi bronkiektasis, epidemiologi, etiologi, tanda dan gejala beserta pemeriksaan fisik.

Kelainan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan — perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen—elemen elastic, otot —otot polos bronkus, tulang rawan, dam pembuluh— pembuluh darah. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil medium size , sedangkan bronkus besar umumnya jarang terjadi.

Berdasarkan atas bronkografi dan patologi bronkiektasis dapat dibagi menjadi 3 yaitu : 1. Bronkiektasis silindris Seringkali dihubungkan dengan kerusakan parenkim paru, terdapat penambahan diameter bronkus yang bersifat regular, lumen distal bronkus tidak begitu melebar. Bronkiektasis fusiform varikosa Pelebaran bronkus lebih lebar dari bentuk silindris dan bersifat irregular. Gambaran garis irregular dan distal bronkus yang mengembang adalah gambaran khas pada bentuk varikosa.

Bronkiektasis kistik atau sakular Dilatasi bronkus sangat progresif menuju ke perifer bronkus. Pelebaran bronkus ini terlihat seperti balon, kelainan ini biasanya 3 terjadi pada bronkus besar, pada bronkus generasi ke 4. Bentuk ini juga terdapat pada BE congenital. Gambar 1. Klasifikasi Bronkiektasis 2. Kenyataannya penyakit ini cukup sering ditemukan di klinik-klinik dan di derita oleh laki-laki dan perempuan.

Penyakit ini dapat diderita mulai sejak anak, bahkan berupa kelainan kongenital. Bronkiektasis lokal terjadi setelah pneumonia berat atau terjadi distal dari endobronkial benda asing atau tumor atau obstruksi ekstrabronkial tuberkulosis KGB hilus-sindrom Brock. Bronkiektasis generalisata : fibrosis kistik, diskinesia silier sindrom kartagener , sindrom young kelainan mukus dan defek imun defisiensi imunoglobulin atau komplemen, penyakit granulomatosa kronis menyebabkan infeksi persisten dan kerusakan dinding bronkus, begitu pula kompleks imun aspergilosis bronkopulmonal alergika, atritis reumatoid, penyakit inflamasi usus.

Adanya fibrosis paru sebagai penyakit yang mendasari bisa menyebabkan tarikan dinding bronkus 4 sehingga menjadi bronkiektasis traksi. Ketika dinding bronkus rusak sehingga batuk menjadi tidak efektif, akibatnya kemampuan untuk mengeluarkan sekret menjadi menurun. Sekret yang menumpuk menjadi tempat berkembangnya bakteri yang dapat menimbulkan infeksi. Ketika dinding bronkial yang terinfeksi menyebabkan kehilangan struktur pendukungnya dan menghasilkan sputum kental yang akhirnya dapat menyumbat bronki.

Dinding bronkial menjadi teregang secara permanen akibat batuk hebat dan dapat mengalami batuk darah hemoptisis akibat nekrosis mukosa bronkus yang mengenai pembuluh darah sehingga menimbulkan pendarahan.

Kelainan struktur kongenital seperti fibrosis kistik, sindroma kartagener dan kurangnya kartilago bronkus dapat menyebabkan terkumpulnya sekret sehingga kuman berkembang dan infeksi bakteri pada dinding bronkus.

Infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otot dan elastin sehingga terjadi kerusakan bronkus yang menetap. Kemampuan bronkus untuk berkontraksi berkurang dikarenakan kemampuan mengeluarkan sekret menurun sehingga terjadi ketidakefektifan jalan nafas. Penyakit brokiektasis dapat terjadi pada pasien yang mengalami peyakit paru primer tumor paru, benda asing, Tb paru sehingga mengakibakan obstruksi pada saluran pernapasan.

Kerusakan ini dapat menyebabkan ateletaksis, penyerapan udara di parenkim dan sekitarnya menjadi tersumbat hal ini menyebabkan ketidakefektifan pola nafas serta menjadikan tekanan intra pleura lebih negatif dari tekanan atmosfer. Dengan demikian bronkus akan mengalami dilatasi, sekret akan terkumpul menyebabkan infeksi 5 sekunder. Sekret yang terkumpul dapat menyebabkan mudah terjadinya infeksi sehingga akan mengalami bronkiektaksis yang menetap dan resiko infeksi.

Retensi sekresi dan obstruksi yang pada akhirnya menyebabkan alveoli mengalami kolaps. Jaringan parut atau fibrosis akibat reaksi inflamasi menggantikan jaringan paru yang berfungsi.

Pada waktunya pasien mengalami insufisiensi pernapasan dengan penurunan kapasitas vital, penurunan ventilasi, dan peningkatan rasio volume residual terhadap kapasitas paru total.

Terjadi kerusakan campuran gas yang di inspirasi ketidakseimbangan ventilasi-perfusi dan hipoksimia. Beberapa tanda dan gejala yang sering ditemui antara lain: 1. Batuk produktif menahun. Sputum terdiri dari atas tiga bagian: a. Lapisan atas agak keruh, terdiri atas mucus b.

Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva c. Lapisan bawah keruh, terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak 2. Batuk darah hemoptisis Akibat terjadinya nekrosis atau destruksi mukosa bronkus yang mengenai pembuluh darah dan menimbulkan pendarahan.

Sesak nafas dispnea Timbulnya sesak tergantung pada luasnya bronkietaksis, terkadang menimbulkan suara mengi akibat adanya obstruksi bronkus. Demam berulang Bronkiektasis merupakan penyakit yang berjalan kronik, sering mengalami infeksi yang berulang akibatnya sering timbul demam. Kelainan fisik 6 a. Sianosis b. Bronchi basah d. Wheezing 2. Pemeriksaan Laboratorium a.

Pemeriksaan Sputum Bila terdapat infeksi volume sputum akan meningkat, dan menjadi purulen, mengandung lebih banyak leukosit dan bakteri. Biakan sputum dapat menghasilkan flora normal dari nasofaring, streptokokus pneumoniae, hemofilus influenza, stapilokokus aereus, klebsiela, aerobakter, proteus, pseudomonas aeroginosa.

Apabila ditemukan sputum berbau busuk menunjukkan adanya infeksi kuman anaerob. Pemeriksaan Darah Tepi Akan ditemukan dalam batas normal. Terkadang ditemukan adanya leukositosis yang menunjukkan adanya supurasi yang aktif dan anemia menunjukkan adanya infeksi yang menahun.

Pemeriksaan Radiologi a. Foto dada PA dan Lateral Biasanya ditemukan corakan paru menjadi lebih kasar dan batas-batas corakan menjadi kabur, mengelompok,kadang- kadang ada gambaran sarang tawon serta gambaran kistik dan batas-batas permukaan udara cairan. Pemeriksaan Bronkografi Ditemukan adanya dilatasi dan nekrosis dinding bronkus.

Bronkografi sendiri adalah pemeriksaan foto dengan pengisian media kontras kedalam system saluran bronkus pada berbagai posisi. Pemeriksaan bronkografi ini juga dapat menentukan bentuk bronkiektasis yang dapat dibedakan 7 menjadi bentuk silindris tubulus, fusiformis , sakuler kistik , dan varikosis. Menemukan dan menghilangkan masalah yang mendasar b. Memperbaiki bersihan secret trakeobronkial c. Mengendalikan infeksi d. Memulihkan obtruksi Penatalaksaan: 1.

Pengendalian infeksi dengan terapi antimikroba berdasarkan pada hasil pemeriksaan sensitivitas pada organism yang dikultur dari sputum. Drainase postural untuk pernafasan dan batuk yang produktif, bertujuan untuk mengeluarkan secret secara maksimal. Bronkodilator diberikan untuk memperbaiki drainase secret. Alat pelembab dan nebulizer dapat dipakai untuk melembabkan secret.

Bronkoskopi terkadang diberikan untuk pengangkatan benda asing atau sumbatan mucus. Pasien dianjurkan untuk menghindari rangsangan bronkus dari asap rokok dan polusi udara yang tercemar berat dan mencegah pemakaian obat sedative dan obat yang menekan efek batuk. Pembedahan dilakuakan apabila pasien tidak menunjukan perbaikan klinis setelah mendapat pengobatan konservatif yang adekuat selama 1 tahun atau timbul hemoptisis yang massif.

Pertimbangan operasi berdasarkan fungsi pernafasan, umur, 8 keadaan, mental, luasnya bronkiektasis, kemampuan ahli bedah, hasil terhadap pengobatannya. Bronkitis kronik. Pneumonia dengan atau tanpa atelektasis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya merupakan pleuritis sicca pada daerah yang terkena. Abses metastasis di otak.

Akibat dari septicemia oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Terjadi karena pecahnya pembuluh darah cabang vena arteri pulmonalis , cabang arteri arteri bronkalis atau anastomosis pembuluh darah. Komplikasi hemoptisis hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan bedah gawat darurat. Sering pula hemoptisis massif yang sulit diatasi ini merupakan penyebab kematian utama pasien bronkiektasis. Keadaan ini sering ditemukan dan merupakan bagian dari komplikasi bronkiektasis pada saluran pernapasan.

Kor pulmonal kronik KPK. Komplikasi ini sering terjadi pada pasien bronkiektasis yang berat dan lanjut atau mengenai beberapa bagian paru. Pada kasus ini bila anastomosis cabang-cabang arteri dan vena 9 pumonalis pada dinding bronkus akan terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, dan selanjutnya terjadi hipoksemia.

Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal. Selanjutnnya terjadi gagal jantung kanan. Kegagalan pernapasan Merupakan komplikasi paling akhir yang timbul pada pasien bronkiektasis yang berat dan luas. Keadaan ini merupakan perubahan degenerative sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Pasien yang mengalami komplikasi amiloidosis ini sering ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinuria. Pengobatan yang tepat dapat memperbaiki prognosis penyakit tersebut. Pada kasus yang berat dan tidak dapat diobati, memiliki prognosis yang jelek dan memiliki kemungkinan hidup tidak lebih dari tahun.

Kematian tersebut biasanya karena pneumonia, empiema, payah jantung kanan, hemoptisis, dan lain lain. Pada kasus tanpa komplikasi bronchitis kronik biasnya memilki disabilitas yang ringan. Insidens ini cenderung menurun dengan adanya kemajuan pengobatan antibiotika. Sedangkan di Indonesia belum ada laporan tentang angka yang pasti mengenai penyakin ini. Kenyataannya penyakit ini cukup sering ditemukan di klinik dan diderita oleh laki laki maupun wanita.

Penyakit ini dapat diderita mulai sejak anak anak berusia 10 tahun. Keluhan utama Keluhan utama pada penyakit bronkiektaksis adalah sesak nafas.

Sesak nafas ini terjadi akibat adanya kerusakan pada dinding bronkus berupa dilatasi dan distrosi bronkus, kerusakan elemen elastic.

HJR1 2C L 12V PDF

Information About COVID-19 for Bronchiectasis Patients

Karina Diana BAB 1. Hal yang menonjol dari sejarah bronkiektasis adalah gambaran hidup pasien yang dingin dan supuratif yang tampak pada tulisan Rene Theophile Hyacinthe Laennec pada awal abad ke 19, penjelasan pada tahun oleh Jean Athanase Sicard dari bronkografi dengan kontras, yang memungkinkan pencitraan dari perubahan destruktif pada saluran napas, penelitian yang dilakukan oleh Lynne Reid pada tahun an yang menghubungkan bronkografi dengan spesimen patologis, dan selanjutnya terjadi pengurangan prevalensi yang mungkin hadir dengan adanya terapi antituberkulosis dan imunisasi terhadap pertusis dan campak. Gejalanya tergantung dari luas, berat, lokasi ada atau tidaknya komplikasi. Pada makalah ini akan dijelaskan bagaimana patofisiologi bronkiektasis, epidemiologi, etiologi, tanda dan gejala beserta pemeriksaan fisik.

PURNENDU PATRI PDF

Taukree Your consent to our cookies if you continue to use this website. In conclusion, I adulted like a boss this year! Remember me Forgot password? Tanda klasik dari konsolidasi Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan adanya suara redup saat perkusi dan adanya ronki basah kasar saat auskultasi akibat banyaknya sekresi pus pada kavitas paru. Traditionally we are taught that venous ulcers are typically over the medial malleolus and arterial ulcers are over the lateral, but in real life they can and will show up just about anywhere. Bagaimanapun,beberapa kunci perkembangan pada tahun mengembangkan hasil untuk pneumonia.

MACROECONOMIA SAMUELSON NORDHAUS PDF

.

Related Articles